Credit Union Bukanlah “SANTA CLAUS”

Credit Union pertama kali dicetuskan di Jerman pada tahun 1849 oleh Walikota Flammersfield, Frederich Wilhelm Reiffeisen (1818-1888) bertujuan untuk menolong kaum miskin yang sedang mengalami krisis ekonomi pada saat itu dan memberdayakan masyarakat (anggota) untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabatnya, melalui pelayanan simpan dan pinjam (bukan pinjam untuk simpan)

Gagasan ini didasarkan pada pengalaman-pengalaman yang di alami oleh Raiffeisen dalam melakukan upaya pengentasan kemiskinan yaitu dengan membagi-bagikan uang dan roti kepada orang miskin yang ternyata gagal dan tidak membawa perubahan seperti yang diinginkannya. Tujuan sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Reiffeisen adalah menghimbau kepada masyarakat agar peduli kepada sesama namun tidak memberikan bantuan berupa materi (uang dan roti dalam pengalaman nyatanya) tapi berilah bantuan yang bersifat mendorong pemberdayaan manusia seutuhnya, sehingga manusia berdaya guna dan berdaya cipta untuk dapat meningkatkan kesejahteraannya sendiri.

Credit Union saat ini mulai di kenal luas dalam masyarakat terlebih lagi pada ide-ide pemberdayaan yang sangat nyata untuk anggotanya yang di lakukan melalui pendidikan, pelatihan dan pendampingan baik secara individu maupun kelompok namun harus diakui bahwa dalam pengembangannya diperlukan kerjasama dan dukungan yang baik dari Semua stake holder dan aktivis Gerakan Credit Union dan selalu menyadari bahwa “mengurus” Credit Union adalah pengelolaan usaha dalam rangka memenuhi kebutuhan anggotanya.

Harus diakui bahwa terkadang sulit membedakan dengan teliti mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang jadi keinginan anggota sehingga akhirnya banyak Credit Union yang terjebak pada “hanya” pelayanan keuangan dan melupakan upaya pemberdayaan anggota untuk mampu mengeluarkan dirinya dari jurang kemiskinan.

Misi utama Credit Union yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Para Anggota, sebuah misi yang sangat mulia dan sederhana namun tidak mudah untuk diwujudkan dengan hanya memberikan uang dan roti seperti yang dilakukan oleh sang walikota pada awal pendirian Credit Union namun dibutuhkan suatu sistem sebagai tanggung jawab akuntabilitas dan transparansi sesuai standar yang telah dibuat untuk melindungi credit union dan membangun hubungan yang kuat dengan para anggota dan stakeholder credit union itu sendiri sehingga dapat bertumbuh dan berkembang dengan sehat, aman, dan berkelanjutan.

Untuk mengaplikasikan misi credit union ini, maka dalam pelayanannya setiap insan credit union berusaha semaksimal mungkin dengan upaya-uapaya dan ide-ide kreatif yang dilakukan melalui pelayanan simpanan dan pinjaman serta pendidikan anggota yang berkelanjutan sehingga para anggota benar-benar memahami tujuan utama credit union itu sendiri, namun hal penting yang harus disadari juga bahwa keberadaan credit union tidak terbatas hanya sebagai sebuah lembaga pemberi pinjaman kepada para anggotanya namun lebih dari itu bagaimana Credit Union dapat mengontrol penggunaan uang, memperbaiki nilai-nilai moral dan fisik manusia serta memperbaiki manusia agar bertindak sesuai hati nuraninya.

Pada kenyataannya, banyak orang ketika ingin masuk menjadi anggota atau bahkan setelah menjadi anggota, berpikir bahwa CU bagaikan “Santa Claus” yang dapat menjawab semua keinginan mereka tanpa harus berusaha untuk memperbaiki kekurangan dan keterbatas yang ada “yang penting sudah jadi anggota maka saya sudah bisa pinjam dari CU” anggota tidak menyadari bahwa ada banyak hal yang dapat dia lakukan di CU, sebagaimana yang disampaikan oleh Reiffeisen “Orang Membantu Orang Lain agar Dapat Membantu Dirinya Sendiri” jadi kita tidak hanya menunggu bantuan dari orang lain baru kita berusaha namun kita harus melakukan sesuatu agar dapat membantu orang lain sehingga kitapun dapat terbantu. Hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah mengikuti pendidikan-pendidikan anggota maupun kegiatan CU lainnya sehingga menambah wawasan tentang CU.

Saat ini, seluruh credit union dibawah jaring Puskopdit BKCU Kalimantan mulai menggalangkan pembinaan anggota tidak hanya secara individu namun dalam bentuk Community Development atau Pemberdayaan komunitas sebagai sebuah proses penyadaran melalui pendidikan dan pelatihan, peningkatan kapasitas dan pendampingan agar anggota mampu meningkatkan kualitas hidupnya secara mandiri dan berkelanjutan. Pembentukan basis komunitas tidak secara langsung dilakukan namun perlahan-lahan sudah dimulai dengan membentuk struktur dan sistem yang baik melalui perencanaan strategis agar dapat berjalan dengan baik.

Dalam tulisan ini, penulis ingin mengingatkan kembali kepada seluruh pengurus, pengawas, manajemen dan aktivis Gerakan Credit Union untuk kembali menempatkan kebutuhan anggota sebagai tujuan usaha dan lebih kreatif dalam menggali potensi yang ada, tentu saja upaya tersebut harus dilakukan dan dilandasi semangat “saling percaya” dan “bekerja sama” walaupun disadari sungguh bawha masih ada keterbatasan pemahaman anggota tentang CU serta pola pikir serta karakter konsumtif dari anggota namun kita tetap optimis bahwa kehadiran Credit Union dapat memberikan harapan yang cerah bagi semua anggota.

Iklan